Kamis, 26 November 2009

LAPORAN PENDAHULUAN
ANAK
DENGAN DIARE


A. Pengertian
Diare adalah buang air besar konsistensi lembek /cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari). Diare akut (gastroenteritis) adalah inflamasi lambung dan usus yang diseabbkan oleh berbagai bakteri virus dan patogen parasitik. Diare adalah buang air besar (BAB) lebih dari tiga dengan konsistensi cair (WHO, 1992).

B. Klasifikasi
Jenis diare sebagai berikut :
a. Menurut perjalanan penyakit :
- Akut : jika kurang dari 1 minggu
- Berkepanjangan : jika antara 1 minggu sampai 14 hari
- Kronis : jika > 14 hari dan disebabkan oleh non infeksi
- Persisten : Jika >14 hari dan disebabkan oleh infeksi
b. Menurut patofisiologi :
- Gangguan absorbsi
- Gangguan sekresi
- Gangguan osmotik
c. Menurut penyebab :
- Infeksi : Virus, bakteri, parasit,jamur
- Konstitusi
- Malabsorbsi
d. Diare dengan masalah lain. Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti : demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
C. Penyebab
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor:
1. Infeksi
a. Infeksi entral : ialah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab diare pada anak meliputi infeksi interal sebagai berkut :
1) Infeksi bakteri: vibrio, E. coli, Salmonella, Sigela, Campylobakteri, Yersenia, Aerromonas dan sebagainya..
2) Infeksi virus : Entro virus, adenovirus, Rotavirus, Astovirus dll.
3) Infeksi parasit : Cacing protozoa dan jamur.
b. Infeksi Parentral ialah infeksi diluar alat pencernaan makan seperti otitis media akut (OMA) tonsillitis/ Tonsiloparingitis, bronkhopnemonia, encepalitis dsb. Keadaan ini terutama tedapat pada anak kurang dari 2 tahun
2. Faktor Malabsorsi
a. Malabsorisi karbohidrat
b. Malabsorsi lemak
c. Malabsorsi Protein
3. Faktor makanan: Makanan basi, beracun alergi terhadap makanan.
4. Psikologis : rasa takut dan cemas

D. Faktor penyebaran
Faktor yang meningkatkan penyebaran kuman penyebab diare:
1. Tidak memadainya penyediaan air bersih
2. Air tercemar oleh tinja
3. Pembuangan tinja yang tidak hygienis
4. Kebersihan perorangan dan lingkungan jelek
5. Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya
6. Penghentian ASI yang terlalu dini


E. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsang tertentu ( Misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus
3. Gangguan motalitas usus
Hiperpristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makan seingga timbul diare. Sebaliknya bila pristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula.



Faktor penyakit / toksik ( misal toksin E. Coli )

Peningkatan peristaltik usus Peningkatan cairan intraluminar

Passase usus meningkat

Waktu henti makanan menurun frekwensi BAB meningkat
( Resiko Infeksi )
( Resiko kerusakan integritas kulit )

Penyerapan makanan, elektrolit terganggu pengeluaran cairan meningkat

Ketidak seimbangan cairan
Ketidakseimbagan nutrisi kurang
Resiko Hipo/hipertermi
Resiko Hipe/hipernatremi
Resiko Hipo/hiperkalemi
Asidosis Metabolik

F. Manifestasi Klinik
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai ledir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktose yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.

Gejala muntah sebelum dan sesudah diare dan dapat menyebabkan lambung juga turut meradang, atau akibat gangguan asam basa dan elektrolit. Timbul dehidrasi akibat kebanyakan kehilangan cairan dan elektrolit .Gejala dehidrasi mulai nampak yaitu berat badan menurun turgor berkurang mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Akibat dehidrasi diuresis berkurang (oliguri sampai anuri). Bila sudah asidosis metabolis pasien akan tampak pucat dengan pernapasan cepat dan dalam (kussmaul).

Asidosis metabolisme karena:
1. Kehilangan NaCO3 melalui tinja diare
2. Ketosis kelaparan
3. Produk- produk metabolik
4. Berpindahnya ion natrium dari cairan intra sel ke ekstrasel
5. Penimbunan laktat ( anoksia jaringan )

Manifestasi klinis dan dehidrasi
Isotonik (kehilangan air dan garam) Hipotonik (kehilangan garam pada kelebihan air) Hipertonik (kehilangan air pada kelebihan garam)
Warna Kulit

Suhu

Turgor

Perasaan

Membran mukosa

Air mata dan salivasi

Bola mata

Fontanel

Suhu tubuh


Nadi

Pernapasan

perilaku Abu-abu

Dingin

Buruk

Kering

Kering

Tidak ada


Cekung dan lunak

Ckung

Dibawah normal atau meningkat

Cepat

Cepat

Peka rangsang samapai letargik Abu-abu

Dingin

Sangat buruk

Basah

Aagak lembab

Tidak ada


Cekung dan lunak

Cekung

Abnormal
Sangat cepat

Cepat

Cepat

Letargik sampai koma; konvulsi Abu-abu

Dingin /panas

Sedang

Tebal, liat

Kering dan panas
Tidak ada


Cekung

Cekung

Di bawah normal atau meningkat
Cepat

Cepat

Letergi nyata dengan hiperiritabilitas yang ekstrem terhadap stimulasi

Cara Menilai Dehidrasi (Who, 1992)
Gejala dan tanda Tak dehidrasi Dehidrasi tak berat Dehidrasi berat
1. Keadaan Umum Baik Rewel, gelisah, lemah. Apatis, tidak sadar
2. Mata Tidak cekung Cekung & kering Sangat cekung,
3. Air Mata Jika menangis masih ada Jika menangis tidak ada Jika menangis tidak ada
4. Bibir Tidak kering Kering Sangat kering
5. Rasa Haus Tidak merasa haus Haus sekali, jika diberi minum rakus. Tidak bisa minum
6. Cubitan Kulit Jika dicubit cepat kembali Jika dicubit kembali lambat dicubit kembali sangat lambat.

G. Penatalaksanaan
Pencegahan penyakit diare
a. Meningkatkan pemberian ASI
b. Memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Mencuci tangan dengan sabun
e. Menggunakan jamban yang benar
f. Membuang tinja bayi dan anak-anak yang tepat
g. Imunisasi campak
Prinsip Penatalaksanaan diare :
a. Mencegah terjadinya dehidrasi
b. Mengobati Dehidrasi
c. Memberi makanan
d. Mengobati masalah lain

Cara melakukan rehidrasi
Derajat
Dehidrasi Kelompok usia Jenis cairan Volume ml/kg bb Waktu
RINGAN Semua kelompok Oral 50 Tiap 4 jam
SEDANG Semua kelompok Oral 70 Tiap 4 jam
BERAT Anak Intra vena 70 Tiap 3 jam
BERAT dan SYOK Semua kelompok Intra vena 70 - 100 Tiap 4 jam

Tatalaksana penderita diare di rumah
a. Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga, seperti kuah sayur, air tajin, larutan gula garam terutama untuk penderita tanpa dehidrasi, dan bila tersedia berikan oralit
b. Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta makanan ekstra sesudah diare
c. Membawa panderita diare ke sarana kesehatan, bila dalam 3 hari tidak membaik atau ada salah satu tanda :
-Berak cair berkali-kali -Muntah berulang-ulang
-Rasa haus yang nyata - Makan dan minum sedikit
-Demam -Tinja berdarah

Cara pembuatan dan pemberian oralit adalah sebagai berikut :
1. Sediakan air matang 1 gelas (200 cc) dan campurkan 1 bungkus oralit untuk ukuran air 200 cc kemudian aduk sampai larut
2. Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak dibawah umur 2 tahun
3. Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua
4. Bila anak muntah, tunggulah 10 menit, kemudian berikan cairan lebih lama (misalnya sesendok 2-3 menit)
5. Bila diare berlanjut setelah oralit habis, berikan cairan lain seperti dijelaskan atau ke petugas kesehatan untuk mendapatkan oralit.
6. Berikan oralit setiap habis BAB dengan jumlah sbb :
Tabel : Pemberian oralit setiap BAB sesuai umur
UMUR Jumlah oralit yang diberikan tiap BAB
< 1 tahun 50-100 ml
1-4 tahun 100-200 ml
> 5 tahun 200-300 ml
Dewasa 300-400 ml

Cara pembuatan Larutan Gula Garam, sebagai pengganti oralit :
- Sediakan air matang 200 cc ( 1 gelas)
- Tambahkan gula pasir 1 sendok makan dan garam sepucuk sendok teh
- Kemudian aduk sampai larut

H. Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
a. Dehidrasi ( Ringan, berat hipotenik, isotonik hipertonik)
b. Renjatan hipovolemik
c. Hipoglikemi
d. Intoleransi sekunder akibat kerusakan filimukosa usus dan defisiensi enzim laktase
e. Hipokalemia
f. Kejang terjadi akibat dehidrasi hipertonik
g. Malnutrisi energi protein

I. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Kajian riwayat penyakit
a. Kaji status dihidrasi
b. Catat keluaran fekal-jumlah, volume, karakteristik
c. Observasi dan catat adanya tanda-tanda berkaitan ternes, kram, muntah
2. Kemungkinan meamakan makanan atau air yang terkontaminasi
3. Kemungkinan infeksi ditempat lain misal : pernapasan , infeksi saluran kemih
a. Cek diagnostik
1) Tampung sperimen sesui kebutuhan
2) Feses pH, obuat Juni, frekuensi
3) HDL, ekusialit semua, kreasmi, BUM
b. Deteksi sumber infeksi
4. Pengkajian fisik rutin
5. Observasi adanya manifestasi gestro entritis akut
6. Pemeriksaan fisik
a. Pengukuran pertumbuhan
1). Tinggi badan
2). Berat badan
3). Ketebalan kulit dan lingkar lengan
b. Fisiologi
1) Suhu
2) Nadi
3) Respirasi
4) Tekanan darah
c. Penampilan umum
1) Anak lemas
2) Tampak kehausan
d. Kulit : inspeksi dan palpasi kulit, turgor berkurang, membran mukosa kering, tekstur kulit menurun. Palpasi suhu kulit meningkat.
e. Kepala dan leher : ukuran kepala, bentuk, kesimetrisan. Fontanel dan sutura cekung,
f. Mata : kelopak mata, mata cekung, konjungtiva, mata sayu.
g. Telinga: inspeksi telinga luar dan dalam, pendengaran.
h. Mulut dan kerongkongan : mukosa mulut kering, rasa haus, kerongkongan panas, lemah menelan.
i. Dada : pergerakan dada, otot bantuan pernafasan.
j. Paru : pernafasan anak cepat. Lemah, dangkal bila dehidrasi berat
k. Jantung : nadi cepat dan lemah.
l. Abdomen : turgor kulit jelek, bunyi usus peristaltik meningkat,
m. Genetalia : iritasi, kemerahan sekitarnya,
n. Anus : kemerahan, iritasi,
o. Extermity : lemah, pergerakan lemah.

Masalah Keperawatan yang sering muncul
1. Diare b/d inflamasi bakteri/malabsorbsi/proses infeksi.
2. Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif
3. Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake makanan





No Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1.
Diare b.d inflamasi bakteri /malabsorbsi /proses infeksi.

Definisi :
BAB cair atau tidak berbentuk

Batasan Karakteristik :
- Sedikitnya BAB cair lebih dari 3 kali dalam sehari
- Suara usus hiperaktif
- Nyeri perut
- Kram
- Urgensi

Faktor yang berhubungan :
- Tingkat stres dan cemas tinggi
- Alkoholik
- Keracunan
- Penyalahgunaan laksatif
- Radiasi
- Pemberian makan melalui selang
- Efek samping obat
- Kontaminasi
- Taravelling
- Inflamasi
- Malabsorbsi
- Proses infeksi
- Iritasi
- Parasit
NOC
≈ Bowel elimination
≈ Balance cairan
≈ Status hidrasi
Kriteria Hasil :
≈ pola defekasi, lembek setiap hari atau 3 hari sekaki
≈ menunjukkan daerah rectal bebas iritasi
≈ menunjukkan frekuensi diare berkurang
≈ mampu menjelaskan penyebab diare dan tindakan yang dilakukan
≈ menunjukkan turgor kulit dan bb dbn.


NIC
Management diare
- Lakukan pemeriksaan feses kultur dan sensitivitas jika diare berlanjut
- Evaluasi efek samping pengobatan pada gastrointestinal
- Anjurkan pasien/keluarga mencatat warna, volume dan konsistensi feses
- Identifikasi faktor penyebab diare (pengobatan, bakteri atau pengaruh makanan)
- Monitor tanda dan gejala diare
- Observasi turgor kulit secara teratur
- Monitor daerah perineal dari iritasi dan ulcerasi
- Timbang BB
- Monitor peningkatan peristaltik usus
- Kelola pemberian intake nutrisi dan cairan
- Berikan medikasi sesuai program

Monitor elektrolit
- Monitor nilai elektrolit
- Monitor kehilangan cairan dan elektrolit
- Monitor manifestasi neurologi karena ketidakseimbangan elektrolit
- Monitor rasa mual, muntah dan diare
- Monitor tanda dan gejala hiponatremi, hiperkalemia
- Administrasi pemberian suplemen elektrolit

Perawatan perineal
- Lakukan hygiene perineal
- Jaga perineal tetap kering
- Bersihkan perineum secara rutin


- Mengetahui jenis bakteri penyebab dan spesifikasi pengobatan.

- Meminimalkan efek samping.

- Menghitung haluaran dan menghitung masukan yang seharusnya.
- Mengetahui pengobatan yang efektif


- Mengetahui efek lanjut secara dini.
- Mengevaluasi tingkat diare.
- Meminimalkan komplikasi dan pencegahan dini.
- Mengetahui apakah ada penurunan BB
- Mengetahui fungsi peristaltik usus.

- Menjaga keseimbangan cairan.

- Mencegah komplikasi dan menyembuhkan.

- Mengetahui nilai elektrolit.
- Mengethaui jumlah kehilangan cairan.
- Mencegah dan mengetahui sedini mungkin komplikasi diare.

- Mengetahui asupan oral.

- Mengetahui sedini ungkin komplikasi elektrolit karena diare.
- Mencegah terjadinya hipoelektrolit.



- Mencegah iritasi perineal.
- Mengurangi iritasi
- Mencegah iritasi perineum.

2
Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif

Definisi : Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular. Ini mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium

Batasan Karakteristik :
- Kelemahan
- Haus
- Penurunan turgor kulit/lidah
- Membran mukosa/kulit kering
- Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan nadi
- Pengisian vena menurun
- Perubahan status mental
- Konsentrasi urine meningkat
- Temperatur tubuh meningkat
- Hematokrit meninggi
- Kehilangan berat badan seketika (kecuali pada third spacing)

Faktor-faktor yang berhubungan:
- Kehilangan volume cairan secara aktif
- Kegagalan mekanisme pengaturan

NOC:
≈ Fluid balance
≈ Hydration
≈ Nutritional Status : Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
≈ Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
≈ Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
≈ Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
NIC :
Fluid management
• Timbang popok/pembalut jika diperlukan
• Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
• Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
• Monitor vital sign
• Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
• Kolaborasikan pemberian cairan intravena IV
• Monitor status nutrisi
• Dorong masukan oral
• Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
• Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
• Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
• Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
• Atur kemungkinan tranfusi
• Persiapan untuk tranfusi

Hypovolemia Management
• Monitor status cairan termasuk intake dan ourput cairan
• Pelihara IV line
• Monitor tingkat Hb dan hematokrit
• Monitor tanda vital
• Monitor responpasien terhadap penambahan cairan
• Monitor berat badan
• Dorong pasien untuk menambah intake oral
• Pemberian cairan Iv monitor adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan
• Monitor adanya tanda gagal ginjal


- Mengetahui jumlah kehilangan cairan pasien.
- Mengetahui keseimbangan cairan tubuh.
- Mencegah sedini mungkin komplikasi



- Mengevaluasi keadaan umum pasien.
- Menghitung masukan oral pasien.

- Mencegah dehidrasi pasien

- Memberikan suplay cairan tubuh.
- Mengetahui secara dini gangguan elektrolit.
- Menjaga keseimbangan cairan tubuh

- Mengoptimalkan masukan oral.

- Mengurangi kejenuhan pada pasien

- Menjaga komplikasi secara dini.

- Menjaga keseimbangan cairan,
- Menjaga terjadinya anemia.


- Menghitung masukan dan haluaran.

- Menjaga infeksi nosokomial.
- Mengevaluai hemokonsentrasi darah pasien.
- Mengathui keadaan umum pasien.
- Mengevaluasi pengethuan pasien
- Mengevaluasi kenaikan berat badan
- Mensuplay masukan oral.,
- Untuk mengetahui dan menjaga over hidrasi.
- Mengethui secara dini PGK

3
Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering

Definisi : Semua risiko untuk kulit yang merupakan perubahan yang bersifat merugikan kulit.
Faktor resiko :
1. eksternal
 factor mekanik
 hipo/hipertermi
 imobilitas fisik
 substansi kimia
 ekskresi atau sekresi
 radiasi
 kelembaban
 pelembab
 usia yang ekstrim
2. internal
 pengobatan
 tulang yang menonjol
 kekebalan tubuh
 perubahan sensasi
 perubahanpigmentasi
 perubahan status metabolic
 perubahan sirkulasi
 perubahn turgor kulit
 perubahan status nutrisi
 psikogenik

NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes
Kriteria Hasil :
≈ Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
≈ Tidak ada luka/lesi pada kulit
≈ Perfusi jaringan baik
≈ Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang
≈ Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC : Pressure Management
 Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
 Hindari kerutan padaa tempat tidur
 Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
 Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
 Monitor kulit akan adanya kemerahan
 Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
 Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
 Monitor status nutrisi pasien
 Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

Pencegahan Pressure Ulcer
 Kaji adanya factor risiko pada pasien
 Dokumentasikan status kulit dalam admisian tiap hari
 Hindari menggunakan pelembab pada daerah perspirasi, luka, fekal atau inkontinensia urine
 Rubah posisi setiap 2 jam
 Inspeksi bony prominence

 Jaga kebersihan linen
 Berikan pelembab pada kulit yang kering

Skin Surveillance
 Inspeksi kondisi kulit yang mengalami pembedahan
 Observasi warna, kelembaban, teksture, ulcerasi kulit
 Monitor kulit yang kemerahan
 Monitor adanya infeksi
 Monitor warna dan suhu kulit
 Catat perubahan kulit dan membran mukosa

- Mengurangi evaporasi

- Mencegah iritasi daerah lipatan.
- Mencegah iritasi kulit.

- Mencegah dekubitus.

- Mencegah komplikasi secara dini.

- Mengetahui adanya iritasi kulit.

- Mencegah kontraktur

- Mengetahui keadaan nutrisi pasien
- Mencegah iritasi kulit.




- Mengetahui faktor risiko.

- Mengetahui kerusakan pada kulit.




- Mencegah dekubitus.
- Mengevaluasi keadaan body prominence
- Mencegah iritasi alat linen.
- Mencegah iritasi kulit.



- Mencegah komplikasi

- Mengetahui efek legalisir.

- Menjaga kesempurnaan Djarum 76.

- Mengetahui perubahan kulit.

4
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake makanan

Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.

Batasan karakteristik :
- Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal
- Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA (Recomended Daily Allowance)
- Membran mukosa dan konjungtiva pucat
- Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/mengunyah
- Luka, inflamasi pada rongga mulut
- Mudah merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan
- Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
- Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
- Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
- Miskonsepsi
- Kehilangan BB dengan makanan cukup
- Keengganan untuk makan
- Kram pada abdomen
- Tonus otot jelek
- Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi
- Kurang berminat terhadap makanan
- Pembuluh darah kapiler mulai rapuh
- Diare dan atau steatorrhea
- Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok)
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya informasi, misinformasi



Faktor-faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis, psikologis atau ekonomi.

NOC :
≈ Nutritional Status :
≈ Nutritional Status : food and Fluid Intake
≈ Nutritional Status : nutrient Intake
≈ Weight control
Kriteria Hasil :
≈ Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
≈ Beratbadan ideal sesuai dengan tinggi badan
≈ Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi
≈ Tidk ada tanda tanda malnutrisi
≈ Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
≈ Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

Nutrition Management
 Kaji adanya alergi makanan

 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
 Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
 Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
 Berikan substansi gula
 Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
 Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
 Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
 Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
 Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
 Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring
 Monitor adanya penurunan berat badan
 Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
 Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama makan
 Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
 Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor makanan kesukaan
 Monitor kalori dan intake nuntrisi
 Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.


- Menghindari terjadinya alergi, kembali.
- Mencegah dehidrasi.


- Mencegah suplai vit. Fe.

- Mencegah malnutrisi.

- Mencegah optimalisasi
- Mencegah konstipasi.


- Memudahkan oral.


- Memandirikan pasien.

- Mengetahui intake masukan.

- Mengetahui kebutuhan nutrisinya.






- Mengetahui keseimbangan cairan.

- Mengetahui pengeluaran kaliori

- Mengetahui trauma anak terhadap RS.

- Mencegah penularan penyakit.
- Mengurangi gangguan makan.

- Mengetahui tanda komplikasi secara dini.
- Mengetahui kekenyalan kulit.
- Menambah porsi makan.
- Mengetahui kerusakan sistemik.
- Mengetahui kerusakan lain.




Discharge Planning
1. Ajarkan pada orang tua mengenai perawatan anak, pemberian makanan dan minuman (missal oralit).
2. Ajarkan mengenai tanda tanda dehidrasi, ubun ubundan mata cekung, turgor kulit tidak elastis, membran mukosa kering
3. Jelaskan obat obatan yang diberikan, efek samping dan kegunaannya.




DAFTAR PUSTAKA



Engel, J. 1998, Pengkajian pediatrik, Jakarta, EGC.

Johnson., M. 1997, Nursing outcomes classification, Retrieved May 2004, from http://www.Minurse.com.

McCloskey, J. C., & Bulecheck, G. M., 1996, Nursing intervention classsification (NIC). Mosby, St. Louise.

Noer, S. 1996, Buku ajar: Ilmu penyakit dalam, Jilid I, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

NANDA, 2002. Nursing diagnosis : Definition and classification (2001-2002), Philadelphia.

Potter, P. A., & Perry, A. G. 2005, Buku ajar fundamental keperawatan : Konsep, proses dan praktik, Edisi 4, Volume 1, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar