Selasa, 24 November 2009

LAPORAN PENDAHULUAN
CARSINOMA NASOFARING


PENDAHULUAN
CARSINOMA NASOFARING

A. LATAR BELAKANG
Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah dorsal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut:
Atas : Basis kranii.
Bawah : Palatum mole
Belakang : Vertebra servikalis
Depan : Koane
Lateral : Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler (resesus faringeus).
Pada atap dan dinding belakang nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika. Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring. Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Didapatkan lebih banyak pada pria dari pada wanita, dengan perbandingan 3 : 1 pada usia / umur rata-rata 30 –50 th.
Sebagian besar klien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut. Oleh karena itu penting bagi perawat untuk mempelajari patofisiologi, manifestasi klinis, prosedur diagnostik dan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien carsinoma nasofaring beserta keluarganya.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan carsinoma nasofaring secara komprehensif di ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

2. Tujuan khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien carsinoma nasofaring
b. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien carsinoma nasofaring
c. Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada klien carsinoma nasofaring
d. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada klien carsinoma nasofaring































KONSEP DASAR
CARSINOMA NASOFARING

A. PENGERTIAN
Carsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan prediksi difosa Rosenmuller dan atap nasofaring. Letaknya kadang tersembunyi dan berhubungan dengan banyak daerah vital sehingga diagnosa dini sulit untuk ditegakkan (Mansjoer, 1999: 110).

B. ETIOLOGI
Penyebab timbulnya Carsinoma nasofaring masih belum jelas. Namun banyak yang berpendapat bahwa berdasarkan penelitian-penelitian epidemiologik dan eksperimental, ada 5 faktor yang mempengaruhi yakni :
1. Faktor genetik (Banyak pada suku bangsa Tionghoa/ras mongolid).
2. Faktor virus (Virus EIPSTEIN BARR)
3. Faktor lingkungan (polusi asap kayu bakar, atau bahan karsinogenik misalnya asap rokok dll).
4. Iritasi menahun : nasofaringitis kronis disertai rangsangan oleh asap, alkohol dll.
5. Hormonal : adanya estrogen yang tinggi dalam tubuh.

Menurut Sjamsuhidajat (1998), Mansjoer (1999), Iskandar (1989) yang menyebabkan terjadinya carsinoma nasofaring yaitu Virus Epstein Barr yang masuk pada mediator-mediator dibawah ini :
1. Kebiasaan makan yaitu mengkonsumsi ikan asin secara terus menerus, karena adanya zat nitrosamine sebagai mediator.
2. Keadaan sosial-ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup. Dikatakan bahwa udara yang penuh dengan asap dirumah-rumah yang kurang baik ventilasinya di Cina, Indonesia, dan Kenya, dan juga pembakaran dupa dirumah-rumah di Hongkong.
3. Adanya kontak dengan zat karsinogen seperti benzopyrenen, benzoanthracene, gas kimia, asap industri, asap kayu.
4. Adanya radang kronis daerah nasofaring yang dapat menjadikan rentan terhadap karsinogen lingkungan.

C. KLASIFIKASI
1. Menurut Histopatologi :
 Well differentiated epidermoid carcinoma.
- Keratinizing
- Non Keratinizing.
 Undifferentiated epidermoid carcinoma = anaplastic carcinoma
- Transitional
- Lymphoepithelioma.
 Adenocystic carcinoma
2. Menurut bentuk dan cara tumbuh
 Ulseratif
 Eksofilik : Tumbuh keluar seperti polip.
 Endofilik : Tumbuh di bawah mukosa, agar sedikit lebih tinggi dari jaringan sekitar (creeping tumor)
3. Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982)
 Tipe WHO 1
- Karsinoma sel skuamosa (KSS)
- Deferensiasi baik sampai sedang.
- Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).
 Tipe WHO 2
- Karsinoma non keratinisasi (KNK).
- Paling banyak pariasinya.
- Menyerupai karsinoma transisional
 Tipe WHO 3
- Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).
- Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, “Clear Cell Carsinoma”, varian sel spindel.
- Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.

4. Klasifikasi TNM
 Menurut UICC (1987) pembagian TNM adalah sebagai berikut :
- T1 = Tumor terbatas pada satu sisi nasofaring
- T2 = Tumor terdapat lebih dari satu bagian nasofaring.
- T3 = Tumor menyebar ke rongga hidung atau orofaring.
- T4 = Tumor menyebar ke endokranium atau mengenai syaraf otak.
- N1 = Metastasis ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama, mobil, soliter dan berukuran kurang/sama dengan 3 cm.
- N2 = Metastasis pada satu kelenjar pada sisi yang sama dengan ukuran lebih dari 3 cm tetapi kurang dari 6 cm, atau multipel dengan ukuran besar kurang dari 6 cm, atau bilateral/kontralateral dengan ukuran terbesar kurang dari 6 cm.
- N3 = Metastasis ke kelenjar getah bening ukuran lebih besar dari 6 cm.
- M0 = Tidak ada metastasis jauh.
- M1 = Didapatkan metastasis jauh.

 Penentuan Stadium
- Stadium I T1 N0 M0
- Stadium II T2 N0 M0
- Stadium III T3 N0 M0
T1 – 3 N1 M0
- Stadium IV T4 N0 – 1 M0
Semua T N2 – 3 M0
Semua T Semua N M1


D. PATHOFISIOLOGI
Pada kanker nasofaring ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr melalui mediator ikan asin, makanan yang diawetkan (mengandung nitrosamine), kontak dengan zat karsinogen (asap industri, gas kimia) dan juga dapat dikarenakan radang kronis daerah nasofaring. Setelah itu, virus masuk berkembang biak kemudian menyerang bagian telinga dan hidung khususnya. Dengan hidupnya virus Epstein-Barr didaerah nasofaring (dekat telinga dan hidung), membuat sel-sel kanker berkembang sehingga membuat terjadinya sumbatan atau obstruksi pada saluran tuba eusthacius dan hidung. Sumbatan yang terjadi dapat menyebabkan baik gangguan pendengaran maupun gangguan penghidu, sehingga merupakan gangguan persepsi sensori.

E. LOKASI
Lokasi ditemukannya carsinoma nasofaring biasanya adalah:
1. Fossa Rosenmulleri
2. Sekitar tuba Eustachius
3. Dinding belakang nasofaring
4. Atap nasofaring

F. TANDA DAN GEJALA
1. Gejala Setempat
Gejala Hidung:
- Pilek dari satu atau kedua lubang hidung yang terus-menerus/ kronik
- Lendir dapat bercampur darah atau nanah yang berbau
- Epistaksis dapat sedikit atau banyak dan berulang
- Dapat juga hanya berupa riak campur darah
- Obstruksio nasi unilateral atau bilateral bila tumor tumbuh secara eksofilik
Gejala Telinga:
- Kurang pendengaran
- Tinitus
- OMP
2. Gejala karena tumbuh dan menyebarnya tumor
Merupakan gejala yang timbul oleh penyebaran tumor secara ekspansif, infiltratif dan metastasis.

a.. Ekspansif
 Ke muka, tumor tumbuh ke depan mengisi nasofaring dan menutuk koane sehingga timbul gejala obstruksi nasi/hidung buntu.
 Ke bawah, tumor mendesak palatum mole sehingga terjadi “bombans palatum mole” sehingga timbul gangguan menelan/sesak.
b. Infiltratif
 Ke atas :
Melalui foramen ovale masuk ke endokranium, maka terkena dura dan timbul sefalgia/sakit kepala hebat, Kemudian akan terkena N VI, timbul diplopia, strabismus. Bila terkena N V, terjadi Trigeminal neuralgi dengan gejala nyeri kepala hebat pada daerah muka, sekitar mata, hidung, rahang atas, rahang bawah dan lidah. Bila terkena N III dan IV terjadi ptosis dan oftalmoplegi. Bila lebih lanjut lagi akan terkena N IX, X, XI dan XII.
 Ke samping :
Masuk spatium parafaringikum akan menekan N IX dan X : Terjadi Paresis palatum mole, faring dan laring dengan gejala regurgitasi makan-minum ke kavum nasi, rinolalia aperta dan suara parau.
Menekan N XI : Gangguan fungsi otot sternokleido mastoideus dan otot trapezius.
Menekan N XII : Terjadi Deviasi lidah ke samping/gangguan menelan
3. Gejala karena metastasis melalui aliran getah bening
Terjadi pembesaran kelenjar leher yang terletak di bawah ujung planum mastoid, di belakang ungulus mandibula, medial dari ujung bagian atas muskulus sternokleidomastoideum, bisa unilateal dan bilateral. Pembesaran ini di sebut tumor colli.
4. Gejala karena metastasis melalui aliran darah
Akan terjadi metastasis jauh yaitu paru-paru, ginjal, limpa, tulang dan sebagainya.

Gejala di atas dapat dibedakan antara :
a. Gejala Dini : Merupakan gejala yang dapat timbul waktu tumor masih tumbuh dalam batas-batas nasofaring, jadi berupa gejala setempat yang disebabkan oleh tumor primer (gejala-gejala hidung dan gejala-gejala telinga seperti di atas).
b. Gejala Lanjut : Merupakan gejala yang dapat timbul oleh karena tumor telah tumbuh melewati batas nasofaring, baik berupa metastasis ataupun infiltrasi dari tumor.
Sebagai pedoman:
Ingat akan adanya tumor ganas nasofaring bila dijumpai TRIAS :
- Tumor colli, gejala telinga, gejala hidung.
- Tumor colli, gejala intrakranial (syaraf dan mata), gejala hidung dan telinga.
- Gejala Intrakranial, gejala hidung dan telinga.

G. KOMPLIKASI
Dengan adanya karsinoma nasofaring dapat terjadi metastasis jauh ke tulang, hati, dan paru dengan gejala khas nyeri pada tulang, batuk-batuk, dan gangguan fungsi hati.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dapat dilakukan pemeriksaan diantaranya yaitu :
a. Foto tengkorak, yaitu foto bagian/ potongan anteriposterior, lateral, dan waters menunjukkan massa jaringan lunak didaerah nasofaring.
b. Foto dasar tengkorak dapat terlihat destruksi atau erosi tulang didaerah fosa serebri media.
c. CT scan daerah kepala dan leher terlihat adanya massa dengan terlihat adanya kesuraman. CT scan dengan kontras menunjukkan massa yang besar mengisi sisi posterior dari rongga hidung dan nasofaring dengan perluasan ke sisi kiri dalam daerah nasofaring.

d. Biopsi dari hidung dan mulut
Biopsi sedapat mungkin diarahkan pada tumor/ daerah yang dicurigai. Biopsi minimal dilakukan pada dua tempat (kiri dan kanan), melalui rinoskopi anterior, bila perlu dengan bantuan cermin melalui rinoskopi posterior. Bila perlu Biopsi dapat diulang sampai tiga kali. Bila tiga kali Biopsi hasil negatif, sedang secara klinis mencurigakan dengan karsinoma nasofaring, biopsi dapat diulang dengan anestesi umum. Biopsi melalui nasofaringoskopi dilakukan bila klien trismus atau keadaan umum kurang baik. Biopsi kelenjar getah bening leher dengan aspirasi jarum halus dilakukan bila terjadi keraguan apakah kelenjar tersebut suatu metastasis.
e. Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal untuk melihat/mendeteksi metastasis.

I. PENATALAKSANAAN
a. Radioterapi
Sebelumnya persiapan pasien dengan oral hygiene, dan apabila infeksi/kerusakan gigi harus diobati terlebih dahulu. Dosis yang diberikan 200 rad/hari sampai 6000-6600 rad untuk tumor primer, sedangkan kelenjar leher yang membesar diberi 6000 rad. Jika tidak ada pembesaran kelenjar diberikan juga radiasi efektif sebesar 4000 rad. Ini dapat diberikan pada keadaan kambuh atau pada metastasis tulang yang belum menimbulkan keadaan fraktur patologik. Radiasi dapat menyembuhkan lesi, dan mengurangi rasa nyeri.
b. Kemoterapi
Sebagai terapi tambahan dan diberikan pada stadium lanjut. Biasanya dapat digabungkan dengan radiasi dengan urutan kemoterapi-radiasi-kemoterapi. Kemoterapi yang dipakai yaitu Methotrexate (50 mg IV hari 1 dan 8); Vincristin (2 mg IV hari1); Platamin (100 mg IV hari 1); Cyclophosphamide (2 x 50 mg oral, hari 1 s/d 10); Bleomycin (15 mg IV hari 8). Pada kemoterapi harus dilakukan kontrol terhadap efek samping fingsi hemopoitik, fungsi ginjal dan lain-lain.
c. Operasi
Tindakan operasi berupa diseksi leher radikal, dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar, dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
CARSINOMA NASOFARING

A. PENGKAJIAN
1. Wawancara
Menurut Sjamsuhidajat (1998), Mansjoer (1999), Iskandar (1989), informasi yang perlu didapatkan pada wawancara adalah sebagai berikut :
a. Menanyakan kepada pasien mengenai gejala-gejala yaitu pada telinga (sumbatan muara tuba dan otitis media) atau adanya gangguan pendengaran. Selain itu, tanyakan pada pasien mengenai gejala hidung seperti epistaksis dan sumbatan hidung.
b. Menanyakan kepada pasien apakah mempunyai riwayat kanker, kebiasaan makan makanan yang asin-asin, mengenai keadaan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup. Apakah pasien sering kontak dengan zat karsinogen, juga adanya radang kronis.

2. Dasar data pengkajian klien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan dan/atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misal nyeri, ansietas, berkeringat malam.
b. Neurosensori
Gejala : gangguan pendengaran dan penghidu, adanya pusing, sinkope.
c. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri terjadi pada bagian nasofaring, terasa panas.
d. Pernapasan
Gejala : adanya asap pabrik atau industri.
Tanda : pada pemeriksaan penunjang dapat terlihat adanya sumbatan seperti massa.
e. Makanan/cairan
Gejala : anoreksia, mual/muntah.
Tanda : perubahan pada kelembaban/turgor kulit.

3. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : Pada bagian leher terdapat benjolan, terlihat pada benjolan warna kulit mengkilat.
Palpasi : Pasien saat dipalpasi adanya massa yang besar, selain itu terasa nyeri apabila ditekan.
 Pemeriksaan THT:
 Otoskopi : Liang telinga, membran timpani.
 Rinoskopia anterior :
o Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di rongga hidung, mungkin hanya banyak sekret.
o Pada tumor eksofilik, tampak tumor di bagian belakang rongga hidung, tertutup sekret mukopurulen, fenomena palatum mole negatif.
 Rinoskopia posterior :
o Pada tumor indofilik tak terlihat masa, mukosa nasofaring tampak agak menonjol, tak rata dan paskularisasi meningkat.
o Pada tumor eksofilik tampak masa kemerahan.
 Faringoskopi dan laringoskopi :
Kadang faring menyempit karena penebalan jaringan retrofaring; reflek muntah dapat menghilang.
 X – foto : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan


PATHWAY KEPERAWATAN
Faktor genetic, virus, faktor lingkungan, iritasi menahun, hormonal, kebiasaan makan ikan asin, karsinogen, faktor tidak diketahui

Mediator: Virus Epstein Barr

CARSINOMA NASOFARING

Terbentuknya massa Perubahan struktur dan mukosa hidung/ telinga

Menginvasi ke arah atas Gangguan aliran limfe dan vena Obstruksi/ gangguan pada tuba eustachius
sampai ke dalam tosa
kranial dan lateral Edema pada mukosa hidung Obstruksi saluran pernapasan oleh massa,
secret, dan perdarahan

Kemoterapi / radioterapi
Operasi / pembedahan

Penurunan pemasukan oral dan
peningkatan metabolisme tumor Trauma tindakan operasi Kurang informasi tentang penyakit kanker
dan pengobatan serta perawatan post operasi



B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Pre Operatif
I. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (obstruksi jaringan saraf telinga dan hidung).
II. Perubahan persepsi-sensori: gangguan pendengaran dan penghidu berhubungan dengan perubahan status organ indera (obstruksi).
III. Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek kemoterapi atau radiasi
IV. Ansietas berhubungan dengan tindakan operatif yang akan dilakukan.
 Post Operatif
I. Nyeri (akut) berhubungan dengan efek tindakan operatif
II. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operatif

C. INTERVENSI
 Pre Operatif
Dx I : Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (obstruksi jaringan saraf telinga dan hidung).
Tujuan : Pasien diharapkan nyeri dapat terkontrol, dengan criteria hasil : pasien melaporkan nyeri berkurang, skala nyeri 1, wajah terlihat rileks, pasien dapat beristirahat.
Intervensi :
1. Kaji keluhan nyeri (karakteristik, intensitas, lokasi, lama, faktor yang memperburuk).
Rasional : Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan oleh pasien, mengidentifikasi nyeri untuk memilih intervensi yang tepat.
2. Anjurkan untuk beristirahat dalam ruangan yang tenang.
Rasional : Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit kepala.


3. Berikan kompres dingin pada bagian yang nyeri.
Rasional : Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.
4. Ajarkan teknik relaksasi dengan distraksi dan napas dalam.
Rasional : Membantu mengendalikan nyeri dan mengalihkan perhatian dari rasa nyeri.
5. Kolaborasi medis, berikan analgesik untuk mengurangi nyeri.
Rasional : Analgesik mampu menekan saraf nyeri.

Dx II : Perubahan persepsi-sensori : gangguan pendengaran dan penghidu berhubungan dengan perubahan status organ indera (obstruksi).
Tujuan : Pasien diharapkan persepsi sensori : pendengaran dan penghidu membaik dengan kriteria hasil : indera pendengaran tidak terganggu, ketajaman pendengaran dan penghidu membaik.
Intervensi :
1. Kaji ketajaman pendengaran dan penghidu.
Rasional : Menentukan kebutuhan individu dan pilihan intervensi yang sesuai.
2. Kolaborasi medis dengan tindakan kemoterapi/radioterapi, selanjutnya dapat dilakukan tindakan operatif.
Rasional : Dapat mengurangi obstruksi yang ada di telinga atau hidung, sehingga pasien dapat merasa nyaman.

Dx III : Nutrisi, perubahan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek kemoterapi atau radiasi.
Tujuan : Pasien diharapkan kebutuhan nutrisi dalam tubuh terpenuhi, dengan kriteria hasil : nafsu makan bertambah, tidak mual.
Intervensi :
1. Pantau masukan makanan setiap hari.
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi nutrisi.
2. Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.
Rasional : Mual/muntah psikogenik terjadi sebelum kemoterapi muali secara umum tidak berespons terhadap obat antiemetik.
3. Kolaborasi medis dengan pemberian aniemetik pada jadwal reguler sebelum atau selama dan setelah pemberian agen antineoplastik dengan sesuai.
Rasional : Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang menimbulkan stress.
4. Sajikan makanan selagi hangat.
Rasional : Dengan sajian makanan hangat lebih mengurangi mual.
5. Dorong pasien untuk makan sedikit tapi sering.
Rasional : Kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan baik.

Dx IV : Ansietas berhubungan dengan tindakan operatif yang akan dilakukan.
Tujuan : Pasien diharapkan tingkat kecemasan berkurang dengan kriteria hasil : wajah rileks, tidak gelisah.
Intervensi :
1. Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnosis.
2. Beri lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk bicara.
Rasional : Membentu pasien untuk merasa diterima pada adanya kondisi tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan rasa terhormat dan kontrol.
3. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis. Hindari memperdebatkan tentang persepsi pasien terhadap situasi.
Rasional : Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.

4. Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan yang tenang.
Rasional : Memudahkan istirahat, menghemat energi, dan meningkatkan kemampuan koping.

 Post Operatif
Dx I : Nyeri (akut) berhubungan dengan efek tindakan operatif.
Tujuan : Pasien diharapkan tingkat nyeri berkurang, dengan kriteria hasil : wajah terlihat rileks, tidak tegang, tidak gelisah.
Intervensi :
1. Kaji keluhan nyeri (karakteristik, intensitas, lokasi, lama, faktor yang memperburuk).
Rasional : Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan oleh pasien, mengidentifikasi nyeri untuk memilih intervensi yang tepat.
2. Anjurkan untuk beristirahat dalam ruangan yang tenang.
Rasional : Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit kepala.
3. Anjurkan teknik relaksasi dengan distraksi dan napas dalam.
Rasional : Membantu mengendalikan nyeri dan mengalihkan perhatian dari rasa nyeri.
4. Berikan kompres dingin pada hari I post operatif, dan pada hari III selanjutnya dengan kompres hangat untuk mengurangi nyeri.
Rasional : Kompres dingin dapat mengurangi nyeri, sedangkan kompres hangat untuk vasodilatasi.
5. Kolaborasi medis, berikan analgesik untuk mengurangi nyeri.
Rasional : Analgesik mamapu menekan saraf nyeri.

Dx II : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operatif.
Tujuan : Pasien diharapkan tidak adanya tanda-tanda infeksi dengan kriteria hasil : luka operasi cepat kering, balutan terlihat bersih.

Intervensi :
1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi.
Rasional : Untuk memudahkan memberikan intervensi kepada pasien.
2. Monitor tanda-tanda vital.
Rasional : Merupakan tanda adanya infeksi apabila terjadi peradangan.
3. Lakukan ganti balutan pada hari ke III/V post operatif.
Rasional : Sehingga kebersihan terjaga dan tidak menjadi tempat berkembangbiak kuman.
4. Kolaborasi medis dengan pemberian antibiotik.
Rasional : Antibiotik dapat mencegah sekaligus membunuh kuman penyakit untuk berkembang biak.

D. EVALUASI
 Pre Operatif
Dx I
~ Nyeri terkontrol
~ Skala nyeri 1
~ Wajah terlihat rileks, tidak gelisah
Dx II
~ Indera pendengaran dan penghidu tidak terganggu, dan menjadi membaik
Dx III
~ Kebutuhan nutrisi dalam tubuh dapat terpenuhi
~ Nafsu makan bertambah, tidak mual
Dx IV
~ Kecemasan pasien berkurang
~ Wajah terlihat rileks, tidak gelisah



 Post Operatif
Dx I
~ Nyeri terkontrol
~ Skala nyeri 1
~ Wajah tidak tegang, dan tenang
Dx II
~ Tidak adanya tanda-tanda infeksi
~ Luka terlihat kering
~ Balutan terlihat bersih







DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Dunna, D.I. Et al. (1995). Medical Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach. 2 nd Edition : WB Sauders.

Lab. UPF Ilmu Penyakit THT FK Unair. (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit THT. Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetom Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.

Makalah Kuliah THT. Tidak dipublikasikan

Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta

Rothrock, C. J. (2000). Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat & Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.

Soepardi, Efiaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. (2000). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Edisi kekempat. FKUI : Jakarta.

Sri Herawati. (2000). Anatomi Fisiologi Cara Pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorokan. Laboratorium Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.


PATHWAY KEPERAWATAN
Faktor genetic, virus, faktor lingkungan, iritasi menahun, hormonal, kebiasaan makan ikan asin, karsinogen, faktor tidak diketahui

Mediator: Virus Epstein Barr

CARSINOMA NASOFARING

Terbentuknya massa Perubahan struktur dan mukosa hidung/ telinga

Menginvasi ke arah atas Gangguan aliran limfe dan vena Obstruksi/ gangguan pada tuba eustachius
sampai ke dalam tosa
kranial dan lateral Edema pada mukosa hidung Obstruksi saluran pernapasan oleh massa,
secret, dan perdarahan

Kemoterapi / radioterapi
Operasi / pembedahan

Penurunan pemasukan oral dan
peningkatan metabolisme tumor Trauma tindakan operasi Kurang informasi tentang penyakit kanker
dan pengobatan serta perawatan post operasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar