Kamis, 26 November 2009

LAPORAN PENDAHULUAN

PLASENTA PREVIA



A. DEFINISI
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000).
Menurut Prawiroharjo (1992), plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
Menurut Cunningham (2006), plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.


B. ETIOLOGI
Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup:
1. Perdarahan (hemorrhaging)
2. Usia lebih dari 35 tahun
3. Multiparitas
4. Pengobatan infertilitas
5. Multiple gestation
6. Erythroblastosis
7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
8. Keguguran berulang
9. Status sosial ekonomi yang rendah
10. Jarak antar kehamilan yang pendek
11. Merokok
Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat yaitu:
a. Total bila menutup seluruh serviks
b. Partial bila menutup sebagian serviks
c. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta).
d. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir).

C. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI
Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa adalah:
1. Melebarnya pertumbuhan plasenta:
a) Kehamilan kembar (gamelli).
b) Tumbuh kembang plasenta tipis.
2. Kurang suburnya endometrium:
a) Malnutrisi ibu hamil.
b) Melebarnya plasenta karena gamelli.
c) Bekas seksio sesarea.
d) Sering dijumpai pada grandemultipara.
3. Terlambat implantasi:
a) Endometrium fundus kurang subur.
b) Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap untuk nidasi.

D. PATOFISIOLOGI (PATHWAY)
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding uterus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.


Etiologi, kehamilan lanjut dan persalinan

Segmen bawah melebar dan menipis

Pembukaan serviks

Plasenta menempel di segmen bawah/plasenta lepas dari dinding uterus

Sinus uterus robek

Perdarahan




E. TANDA DAN GEJALA
Menururt FKUI (2000), tanda dan gejala plasenta previa diantaranya adalah:
a. Pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya dan berulang
b. Darah biasanya berwarna merah segar.
c. Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.
d. Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin.
e. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent bleeding) biasanya lebih banyak.

F. KOMPLIKASI
Menurut Roeshadi (2004), kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya plasenta previa adalah sebagai berikut:

1. Pada ibu dapat terjadi:
a. Perdarahan hingga syok akibat perdarahan
b. Anemia karena perdarahan
c. Plasentitis
d. Endometritis pasca persalinan
2. Pada janin dapat terjadi:
a. Persalinan premature
b. Asfiksia berat

G. PROGNOSIS
Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, dapat menyebabkan kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya.
Faktor resiko yang juga penting dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio sebelumnya ,kejadian plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio. Kematian ibu disebabkan karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated Intravascular Coagulopathy). Sedangkan morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena komplikasi tindakan seksio sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif dan meskipun jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah, 2004).
Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Risiko kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa (Hanafiah, 2004).

H. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN
Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk penanganan plasenta previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu:
a. Kaji kondisi fisik klien
b. Menganjurkan klien untuk tidak coitus
c. Menganjurkan klien istirahat
d. Mengobservasi perdarahan
e. Memeriksa tanda vital
f. Memeriksa kadar Hb
g. Berikan cairan pengganti intravena RL
h. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature
i. Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan < 37 minggu.

I. DATA SISTEM PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan Fisik
a) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
1) Rambut dan kulit
a. Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
b. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
c. Laju pertumbuhan rambut berkurang.
2) Wajah
a. Mata : pucat, anemis
b. Hidung
c. Gigi dan mulut
3) Leher
4) Buah dada / payudara
a. Peningkatan pigmentasi areola putting susu
b. Bertambahnya ukuran dan noduler
5) Jantung dan paru
a. Volume darah meningkat
b. Peningkatan frekuensi nadi
c. Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
d. Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
e. Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
f. Diafragma meningga.
g. Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
6) Abdomen
a. Menentukan letak janin
b. Menentukan tinggi fundus uteri
7) Vagina
a. Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick)
b. Hipertropi epithelium
8) System musculoskeletal
a. Persendian tulang pinggul yang mengendur
b. Gaya berjalan yang canggung
c. Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal


b) Khusus
1) Tinggi fundus uteri
2) Posisi dan persentasi janin
3) Panggul dan janin lahir
4) Denyut jantung janin
2. Pemeriksaan Diagnostik
a. USG untuk diagnosis pasti, yaitu untuk menentukan letak plasenta.
b. Pemeriksaan darah: Hb, Ht (Roeshadi, 2004).

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perfusi jaringan tidak efektif (plasental) b.d. kehilangan darah (hipovolemia).
2. Cemas b.d. perubahan yang menyertai kehamilan.

K. PERENCANAAN
No Dx Tujuan Intervensi Rasional
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat menunjukkan perfusi yang adekuat, dengan kriteria hasil:
• Tanda-tanda vital stabil
• Membrane mukosa berwarna merah muda
• Pengisian kapiler normal (< 2 dtk).
• Haluaran urin adekuat.
• Pernapasan adekuat • Kaji penyebab terjadinya perdarahan (abrasi plasenta, plasenta previa, merokok, penggunaan kokain, PIH (pregnance induced hiertention).
• Kaji secara akurat kemunginan harapan hidup janin, kaji juga kapan menstruasi terakhir ibu, prioritaskan pelaporan yang didapat dari Ultrasound atau riwayat obstetrik.
• Inspeksi keadaan perineum, hitung jumlah dan karkateristik perdarahan.
• Monitor TTV

• Lakukan persiapan prosedur emergency antepartum , partum, seperti terapi oksigen, terapi parenteral IV dan mungkin infuse parallel.
• Catat masukan dan pengeluaran makanan dan minuman.

• Elevasikan ekstremitas bawah untuk meningkatkan perfusi ke aorgan vital dan fetus.


• Untuk menetapkan terapi yang sesuai.


• Untuk dapat mencegah komplikasi dari perdarahan.


• Untuk mengetahui perkembangan dari perdarahan yang terjadi oek
• Untuk mencegah komplikasi sedini mungkin.
• Untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik.

• Mencegah kekurangan elektrolit, cairan dan nutrisi.

• Agar aliran darah lancar
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat:
• Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
• Mempertahankan tindakan yang mengontrol cemas.
• Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi cemas.
• Memonitor faktor risiko dari lingkungan
• Membantu klien mengidentifikasi penyebab cemas yang dialaminya.
• Mengajari klien cara melakukan teknik relaksasi

• Klien dapat menyebtkan penyebab cemas yang sedang di alaminya.


• Memberikan penjelasan kepada klien mengenai kondisi penyakit yang sedang dialaminya.
• Mengetahui penyebab utama kecemasan dan dapat segera dilakukan pengobatan.
• Untuk mengontrol terjadinya kecemasan.

• Mengidentifikasi faktor penyebab ketidaknyamanan klien dan dapat dijadikan sebagai fokus utama penangana terhadap kecemasan klien.
• Memberikan informasi sejelasnya kepada klien.



DAFTAR PUSTAKA

FKUI. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta.
Cunningham, FG, Norman, F, Kenneth, J, Larry, C & Katharine, D 2006, Obstetri williams, Edisi ke 21, EGC, Jakarta.

Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian pasien, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Hanafiah, TM 2004, Plasenta previa, diakses tanggal 1 Juni 2009, http://library.usu.ac.id

Manuaba, IBG 2003, Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan, EGC, Jakarta.

McCloskey & Bulechek. 2000. “Nursing interventions classification (NIC)”, United States of America, Mosby.

Meidean, JM. 2000. “Nursing Outcomes Classification (NOC)”,United States of America. Mosby.

Mochtar, R 1998, Sinopsis obstetri: Obstetri fisiologi, obstetri patologi, Edisi ke 2, EGC, Jakarta.

NANDA 2005. “Nursing diagnosis definitions & classification”. Philadelphia. Locust Street.

Prawirohardjo. S, Ilmu Kebidanan, Ed. III, cet.II, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1992,hal.365-376.

Roeshadi, RH 2004, Gangguan dan penyulit pada masa kehamilan, diakses tanggal 12 Mei 2008, http://library.usu.ac.id

Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson. 1995. Patofisiologi Volume 2. EGC : Jakarta


Wiknjosastro, H 2005, Fisiologi dan mekanisme persalinan normal dalam: Ilmu kebidanan, Edisi ke 3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar